Privasi dan Era Modern



Pembicaraan mengenai privasi pada era digital ini sudah berubah jauh dari jaman nenek moyang kita dahulu. Jaman dulu apa yang kita definisikan sebagai privasi biasanya hanya dalam lingkup dunia sehari-hari yang kita jalani, dunia sekitar atau kegiatan fisik yang nyata, namun di era ini kita tidak lagi hidup dalam dunia nyata saja tetapi juga memiliki jejak di dunia teknologi atau yang biasa kita sebut dunia maya. Jika tidak hati-hati pada dunia ini orang dapat dengan mudah mengulik informasi pribadi kita karena dunia maya tidak memiliki bentuk fisik, semua orang bersifat anonim. Jangkauan kehidupan dunia maya yang sangat luas dan berkembang cepat dapat dengan mudah dimanfaatkan untuk hal-hal yang tidak semestinya dilakukan karena banyak sekali loophole atau celah keamanan. Apa saja hal yang mungkin tidak kita sadari yang dapat menjadi berbahaya jika kita tidak hati-hati? Berikut beberapa diantaranya.


Toko aplikasi digital merupakan rumah dari ratusan ribu bahkan jutaan aplikasi yang bisa bebas kita pilih sesuai kebutuhan kita, mulai dari aplikasi untuk hiburan seperti game, music player, hingga aplikasi untuk terapi, tersedia dengan banyak pilihan alternatif dari berbagai pengembang. Dibalik hadirnya jutaan aplikasi, tidak hanya kita yang diuntungkan dengan banyaknya variasi tersebut, tetapi pengembang juga akan mendapatkan untung dari aplikasi yang mereka buat dengan bermacam-macam benefit mulai dari aplikasi yang memang dijual secara premium, dengan langganan bulanan, ataupun dengan cara disebar secara gratis atau freemium yang memanfaatkan pedapatan dari iklan.


Perlu kita ketahui aplikasi yang kita gunakan harus menguntungkan developer dengan cara satu atau yang lainya. Para developer tersebut memiliki berbagai cara untuk mendapatkan “keuntungan” bukan hanya melalui uang mereka juga bisa mendapatkan keuntungan lewat data. Apalagi data merupakan salah satu alat pembayaran di era digital ini. Dengan banyaknya pengguna atau user hal ini merupakan sebuah tambang emas yang terlalu saying untuk dibiarkan begitu saja. tetapi apakah tindakan ini illegal atau tidak? Tentu saja hal ini merupakan pedang bermata dua bagi kita, pada akhirnya kitalah yang harus pintar untuk menyaring aplikasi apa saja yang aman bagi kita., semua Tindakan memerlukan “persetujuan” kita atau pengguna aplikasi tersebut.


Cara terbaik untuk menggaet pengguna adalah dengan mendesain aplikasi tersebut semenarik mungkin sehingga kita tidak sabar untuk memainkanya atau biasanya mereka mendesain aplikasi-aplikasi ini hanya sekedar menjual gimmick yang lucu atau keren yang dapat dengan mudah memantik rasa penasaran kita. Contohnya adalah aplikasi X-RAY atau Palu. Mungkin tidak masuk akal untuk sebagian orang tapi tetap membuat penasaran. Banyak dari kita yang mengunduhnya hanya untuk sekedar membuktikan atau coba-coba saja.


Langkah ini terbukti berhasil dengan nilai unduhan untuk aplikasi-aplikasi sepele ini terhitung massif, beberapa aplikasi bahkan diunduh hingga lebih dari 1 Juta kali. Kesalahan yang sering kita buat adalah tidak membaca persyaratan aplikasi karena kita tidak sabar ingin segera memainkan atau mencoba aplikasi tersebut padahal Google selaku pemilim platform dengan Playsotre-nya atau Apple dengan Appstore sudah membuat peringatan pada kita pada saat kita mengeklik unduh/install pada aplikasi tersebut. 


Biasanya ada jendela yang muncul dan menunjukan izin apa saja yang diminta aplikasi agar bisa berjalan secara normal. Anehnya pada aplikasi yang mungkin dapat dikatakan sepele seperti senter, aplikasi yang hanya membutuhkan lampu flash di smartphone kita untuk dapat berfungsi, membutuhkan izin untuk mengakses penyimpanan, kamera, kontak dan yang lainya, untuk apa?.


Kita tidak sadar bahwa banyak aplikasi yang mejalankan perintah tersembunyi di latar belakang, contoh lainya adalah aplikasi penghemat baterai atau antivirus. Alih-alih baterai kita yang menjadi semakin irit aplikasi ini lebih sering menghabiskan beaterai dan membuat smartphone kita terasa berat atau gampang panas karena kerja secara terus-menerus, hal yang terjadi justru data kita sedang dicuri dan dikirimkan kembali ke pengembang oleh aplikasi-aplikasi yang lebih cocok di sebut bloatware ini.
Aplikasi-aplikasi ini berkerja dengan akses yang kita berikan sebelumnya beberapa dengan merekam catatan panggilan, sms bahkan merekam suara kita, mengakses semua data kita di penyimpanan atau yang lebih mengerikan aplikasi yang membutuhkan root dapat memodifikasi sistem di hp.


Aplikasi yang lain bertindak lebih jauh dengan mengambil foto kita atau merekam apa yang kita tulis dan mengirimkanya kembali seperti contohnya aplikasi papan ketik. Jadi jika suatu saat akun anda tidak dapat diakses kembali atau foto pribadi anda tiba-tiba tersebar di internet atau bahkan saldo di bank anda berkurang jangan kaget, semoga hal-hal mengerikan ini tidak terjadi pada kita.


Contoh kasusnya banyak sekali bukan hanya satu atau dua, bahkan perusahaan sekelas google melakukan pelanggaran data pengguna walaupun masih dalam batasan tertentu. Mereka biasanya sudah “memberi tahu” kita terlebih dahulu lewat persyaratan penggunaan dan biasanya kita malas membacanya karena tulisanya yang sangat panjang dan dengan berbagai alasan  entah itu tidak punya waktu atau hal lainya kita menyetujuinya begitu saja.

Saya pernah menonton sebuah video  di youtube yang mencoba mengecek apakah google mendengarkan kita? Dan jawabanya tidak mencengangkan sama sekali dalam video itu seseorang sedang melakukan eksperimen kecil dengan mengetes apakah google selalu mendengarkan kita lewat mikrofon dan jawabanya adalah iya.


Entah data apa yang mereka simpan tapi dari video tersebut google merekam apa yang sering kita katakan, misalkan kita sering mengatakan kucing maka saat kita browsing di internet maka akan muncul iklan-iklan tentang kucing mulai dari makanan sampai mainan kucing yang akan sering muncul di hp kita, mungkin hal ini terlihat sepele tapi kita tidak pernah tau yang sebenarnya direkam dan dikirimkan kembali, mungkin tidak begitu berbahaya karena biasanya google mengumpulkan data untuk kepentingan personalisasi iklan, tetapi hal ini kadang merupakan Tindakan diluar persetujuan kita.


Sebenarnya walaupun google merupakan salah satu perusahaan dengan skala besar tidak menutup kemungkinan jika suatu saat ada sekumpulan hacker kawakan yang sedang jengkel pada perusahaan ini, apa yang akan terjadi apabila google terkena serangan cyber? data tersebut dapat disalah gunakan yang akhirya juga akan merugikan kita karena google merekam banyak aktifitas lainya juga. Untungnya ada cara untuk membatasi akses google kepada data kita di pengaturan kebijakan privasi dan data ini dapat dirubah kapan saja untuk lebih jelasnya silahkan browsing bagaimana cara mematikanya.


Masih banyak contoh kasus yang melibatkan data pengguna yang lainya seperti apa yang dilakukan oleh cambridge analytica dengan facebook, teknik phising yang sering digunakan oleh hacker untuk membobol kartu kredit seperti apa yang terjadi di surabaya beberapa waktu lalu. Pada masa modern seperti ini data merupakan komoditi yang penting dan bernilai tinggi begitu juga dengan privasi kita.


Banyak celah keamanan yang memunculkan potensi penyalahgunaan dan contoh-contoh tersebut hanya sebagian kecil saja, maka untuk saat ini di zaman yang semuanya sudah serba modern kita harus paham dan sadar tentang resiko pesatnya perkembangan teknologi dan harus kita gunakan secara bijaksana, sering juga yang terjadi, penyalahgunaan teknologi sebagai sarana serangan verbal yang berisi ancaman dan penyebaran berita-berita hoax yang menuntun pada penipuan. Selalu belajar dan berkembang bersama teknologi adalah senjata paling ampuh untuk mencegah dan melindungi diri agar ancaman-ancaman tersebut tidak sampai terjadi pada kita dan last but not least, be smart and be safe! The future is now !


Previous
Next Post »